Saturday, September 4, 2010

Rupiah Tembus Rp 10.000, Indikator Awal Pemulihan Ekonomi

Posted by admin On Juli - 25 - 2009

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kemarin ditutup menembus level psikologis Rp10.000 per dolar AS pada level kurs tengah Rp9.995.

Penguatan rupiah dinilai sebagai mulai masuknya arus modal jangka pendek (hot money) dalam jumlah besar ke sistem keuangan Indonesia, didorong ekspektasi berangsur pulihnya perekonomian nasional, regional,maupun global. Pengamat pasar uang Farial Anwar menuturkan, dengan perkembangan yang ada, rupiah bahkan bisa lebih menguat di bawah level Rp9.995 per dolar AS.

Dia menduga bank sentral kini malah berbalik menahan penguatan agar tidak terlalu tajam dan menjaga agar gerakan rupiah lebih stabil. ”Alasannya menyelamatkan eksportir, tapi seharusnya penguatan itu jangan ditahan,” katanya di Jakarta kemarin. Gerak penguatan rupiah lebih lambat dibandingkan kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) pascateror bom Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton pekan lalu.

Ketika dibuka Selasa (21/7), IHSG tercatat langsung meroket 40 poin ke 2.146,5. Kemarin bahkan ditutup lebih tinggi lagi, di level 2.185,6. Ini adalah rekor tertinggi IHSG sejak dihantam dampak krisis keuangan global pada akhir 2008. Terlepas dari itu,Farial menilai Bank Indonesia (BI) sukses meredam dampak teror bom, sehingga rupiah hanya melemah pada hari nahas itu saja.

Selanjutnya kurs tengah rupiah BI bergerak mendatar di kisaran Rp10.060 dan akhirnya menguat 65 poin kemarin, menembus level psikologis Rp10.000. Sementara itu, Deputi Gubernur BI Budi Mulya mengatakan, cadangan devisa antara akhir Juni 2009 lalu hingga kemarin turun sekitar USD600 juta menjadi USD56,9 miliar.

Namun Budi tidak mengaitkan penurunan tersebut dengan upaya menjaga nilai tukar rupiah pascateror bom. Di pasar saham, masuknya dana jangka pendek juga tampak dari perilaku investor asing yang setiap hari dalam sepekan ini lebih banyak membeli daripada menjual saham. Hal yang sama ditunjang data kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SUN) di pasar sekunder yang tidak surut selepas aksi pengeboman.

Analis Erdikha Elit Securities Joseph Pangaribuan mengatakan, penguatan rupiah dan IHSG merupakan indikator awal pemulihan ekonomi. ”Biasanya indeks saham bisa mencium dini sinyal baik perekonomian, baru kemudian direspons oleh sektor riil,”kata dia.

Sementara itu, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, derasnya arus hot money terjadi karena investasi di Indonesia kini dinilai jauh lebih menguntungkan daripada negara lain. Indonesia, China,dan India adalah tiga negara di kawasan Asia yang masih mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif hingga akhir tahun ini.

Mengikuti perkembangan rupiah, Farial mengingatkan kemungkinan munculnya aksi spekulasi baru selain nilai tukar, yakni spekulasi harga komoditas di bursa berjangka. Salah satu indikator paling nyata menurut dia adalah pergerakan harga minyak dunia yang mulai merangkak naik.

Kemarin harga minyak mentah di perdagangan Asia untuk kontrak berjangka utama New York jenis light sweet untuk pengiriman September mencapai USD66,50 per barel,dan jenis Brent North Sea untuk pengiriman bulan yang sama USD68,80 per barel.

Menurut Farial pergerakan antara rupiah dan harga minyak saat ini mirip seperti situasi tahun lalu. Tahun lalu harga minyak yang mahal akibat spekulasi, diiringi naiknya nilai tukar dolar AS membuat APBN tertekan, terutama untuk menutupi biaya subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang membengkak. @Yus, Berbagai sumber

Leave a Reply